Example floating
Example floating
OpiniBeritaDaerah

Ketika Adab Lebih Tinggi Dari Jabatan: Ketika Etika Menjadi Mahkota Seorang Pemimpin

196
×

Ketika Adab Lebih Tinggi Dari Jabatan: Ketika Etika Menjadi Mahkota Seorang Pemimpin

Sebarkan artikel ini

Opini Oleh :Mujiburrahman,Pimpinan Redaksi media online Kalam Indonesia Nwes

 

KALAM INDONESIA NEWS

Di tengah kehidupan yang sering menempatkan jabatan sebagai ukuran kehormatan, sesungguhnya masyarakat lebih mudah mengingat sikap daripada pangkat. Jabatan dapat berganti, kekuasaan dapat berakhir, tetapi etika dan keteladanan akan tetap hidup dalam ingatan publik.

Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari keberhasilan membangun infrastruktur, menyusun kebijakan, atau menyelesaikan persoalan pemerintahan. Ada nilai lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana ia memperlakukan manusia dengan penuh hormat, sopan santun, dan kerendahan hati.

Momen ketika Bupati Sarolangun, H. Hurmin, mencium tangan seorang nenek saat menyambut kepulangan jemaah haji menjadi perhatian masyarakat. Tindakan yang sederhana itu menghadirkan pesan yang jauh lebih besar daripada sebuah seremoni. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian berucap, “Adab lebih tinggi daripada jabatan.”

Kalimat itu lahir bukan karena protokoler, melainkan karena masyarakat selalu merindukan sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat, menghargai orang yang lebih tua, menyapa tanpa sekat, dan tidak membangun jarak dengan kekuasaan yang dimilikinya.

Etika bukanlah kelemahan. Justru etika adalah kekuatan moral yang membuat seorang pemimpin dihormati tanpa harus meminta penghormatan. Jabatan dapat memberikan kewenangan, tetapi hanya sikap yang mampu menghadirkan kepercayaan.

Di era ketika masyarakat dapat menilai setiap tindakan pemimpin dalam hitungan detik melalui media sosial, keteladanan menjadi investasi yang jauh lebih berharga daripada pencitraan. Ketulusan sulit direkayasa, dan masyarakat semakin cerdas membedakan mana tindakan yang lahir dari hati, mana yang sekadar memenuhi kebutuhan kamera.

Tentu saja, masyarakat tetap berharap setiap pemimpin bekerja dengan baik, menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas, pembangunan yang merata, serta kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Namun, ketika semua itu dipadukan dengan etika yang baik, lahirlah kepemimpinan yang bukan hanya dihormati selama menjabat, tetapi juga dikenang setelah masa jabatannya berakhir.

Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah berkuasa. Sejarah lebih sering mengingat bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika ia memiliki kekuasaan.

Karena jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu, sedangkan adab adalah warisan moral yang akan terus hidup dalam ingatan masyarakat. Seorang pemimpin boleh dikenang karena prestasinya, tetapi ia akan dicintai karena kerendahan hati dan keteladanannya.

Sebab pada akhirnya, etika adalah mahkota kepemimpinan yang sesungguhnya.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *