KALAM INDONESIA NEWS
Sarolangun — Aksi karnaval kreatif yang ditampilkan SMA Negeri 1 Sarolangun menyoroti persoalan tambang emas ilegal, kerusakan lingkungan, serta bencana longsor yang menelan korban jiwa.
Melalui berbagai paraga dan kreativitas yang ditampilkan, para peserta menyampaikan pesan sosial sekaligus menggambarkan keprihatinan terhadap kondisi masyarakat yang berada di kawasan aktivitas pertambangan.
Dalam karnaval tersebut, paraga dari SMA Negeri 1 Sarolangun menampilkan sejumlah simbol yang menggambarkan kondisi dan dampak aktivitas pertambangan emas ilegal. Pesan yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Salah seorang warga menyampaikan kenyataan pahit yang dirasakan sebagian masyarakat, khususnya di wilayah Limun.
“Kalau tidak menambang, dari mana kami mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari? Tidak ada lapangan pekerjaan lain. Kami terpaksa mempertaruhkan nyawa, bukan karena ingin, tapi karena harus makan,” ujarnya.
Keprihatinan tersebut dituangkan melalui berbagai bentuk paraga karnaval. Salah satunya berupa spanduk bertuliskan “TURUT BERDUKA CITA KORBAN LONGSOR TAMBANG EMAS ILEGAL KECAMATAN LIMUN” sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para korban.
Selain itu, replika batu longsor berukuran besar, kendaraan yang menggambarkan lubang tambang, serta barisan peserta dengan ekspresi penuh keprihatinan menjadi gambaran simbolis mengenai risiko yang dihadapi masyarakat di kawasan pertambangan.
Keterlibatan SMA Negeri 1 Sarolangun dalam karnaval tersebut juga menjadi sarana edukasi dan penyampaian pesan sosial melalui kreativitas generasi muda. Pesan yang disampaikan tidak hanya mengenai bahaya pertambangan ilegal, tetapi juga pentingnya menjaga lingkungan serta keselamatan manusia.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Sarolangun tidak hanya melihat persoalan tambang ilegal sebagai pelanggaran hukum, tetapi juga memperhatikan akar persoalan berupa keterbatasan lapangan pekerjaan dan sumber penghasilan masyarakat.
Warga berharap pemerintah dapat:
1. Menyusun aturan dan tata kelola yang jelas, sehingga kegiatan ekonomi masyarakat dapat berlangsung secara aman, tertib, dan tidak merusak lingkungan.
2. Membuka peluang serta lapangan pekerjaan yang layak, agar masyarakat tidak terpaksa mengambil risiko yang membahayakan keselamatan.
3. Menegakkan hukum secara adil dan merata, dengan tetap memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
4. Menyiapkan solusi ekonomi alternatif yang berkelanjutan, bukan sekadar melakukan penutupan aktivitas tanpa memberikan jalan keluar bagi masyarakat.
“Kami ingin aturan dan hukum berlaku, tapi kami juga ingin kesejahteraan dirasakan. Biarlah kami bekerja aman, teratur, dan mendapatkan hasil yang berkah, bukan dengan darah dan air mata,” tambah warga.
Karnaval tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan tambang emas ilegal memiliki dampak yang luas, mulai dari kerusakan lingkungan, ancaman keselamatan hingga persoalan ekonomi masyarakat.
Harapan masyarakat Sarolangun, khususnya warga Kecamatan Limun, kini tertuju kepada pemerintah agar hadir bukan hanya sebagai penegak aturan, tetapi juga sebagai pemberi solusi.
Dengan adanya perhatian dan langkah nyata dari pemerintah, masyarakat berharap tidak ada lagi korban jiwa akibat aktivitas pertambangan yang berisiko. Masyarakat juga berharap dapat memenuhi kebutuhan hidup melalui pekerjaan yang aman, bermartabat, dan berkelanjutan.
(Red-KIN)
Karnaval Kreatif SMA Negeri 1 Sarolangun Soroti Tambang Emas Ilegal, Gambarkan Duka Korban Longsor















