KALAM INDONESIA NEWS
Sarolangun, Jakarta– Pemadaman listrik berskala besar yang melanda hampir seluruh wilayah Sumatera menjadi sorotan tajam. Ironisnya, gangguan tersebut dipicu oleh terbakarnya dan putusnya satu jalur kabel transmisi di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, hingga mengakibatkan lumpuhnya pasokan listrik di berbagai daerah.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar mengenai ketahanan sistem kelistrikan di Sumatera. Padahal, Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia yang selama ini menjadi bahan baku utama pembangkit listrik nasional.
Sorotan keras disampaikan Anggota DPR RI dari Fraksi PPP, Dr. H. Syarif Fasha, M.E., dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI bersama Direktur Utama PT PLN (Persero).
“Satu kabel putus dan terbakar di wilayah Bungo, Jambi, bisa membuat seluruh Sumatera gelap gulita. Ini pertanyaan besar: Jambi kaya raya batu bara, tapi kenapa kita tak berdaulat atas energi sendiri?” tegas Syarif Fasha.»
Menurutnya, kejadian tersebut menjadi bukti bahwa sistem transmisi listrik di Sumatera masih sangat bergantung pada satu jalur utama. Kondisi itu dinilai berisiko tinggi dan menunjukkan perlunya penguatan infrastruktur kelistrikan agar tidak mudah lumpuh ketika terjadi gangguan pada satu titik.
Dampak pemadaman juga dirasakan masyarakat Kabupaten Sarolangun, salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di Provinsi Jambi. Pantauan Kalam Indonesia News di kawasan Bernai, Kecamatan Sarolangun, Sabtu malam (4/7/2026), menunjukkan penerangan jalan umum padam, aktivitas ekonomi warga terganggu, dan sejumlah pelaku usaha terpaksa mengandalkan genset sebagai sumber listrik darurat.
Seorang warga Bernai mengaku kecewa dengan kondisi tersebut.
“Batu bara dari daerah kami dikirim ke berbagai wilayah untuk membangkitkan listrik, tetapi masyarakat di daerah penghasil justru masih sering merasakan pemadaman. Seharusnya infrastruktur listrik di wilayah penghasil energi menjadi prioritas,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, tim teknis PLN masih melakukan proses pemulihan jaringan transmisi yang mengalami gangguan di Kabupaten Bungo. Belum ada kepastian mengenai waktu normalisasi pasokan listrik secara menyeluruh di wilayah Sumatera.
Dalam kesempatan tersebut, Syarif Fasha mendesak pemerintah pusat dan manajemen PLN segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem transmisi kelistrikan di Sumatera. Ia mendorong pembangunan jalur transmisi cadangan, penguatan infrastruktur jaringan, serta pengembangan pembangkit listrik di daerah penghasil energi seperti Jambi agar tidak terus bergantung pada satu sistem transmisi.
“Kita tidak boleh selamanya bergantung pada satu jalur kabel saja. Jambi berhak menikmati hasil kekayaan alamnya sendiri, dan masyarakat Sumatera berhak memperoleh pasokan listrik yang andal, aman, dan berkelanjutan,” tutupnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam, tetapi juga oleh kesiapan infrastruktur dan sistem distribusi yang mampu menjamin keandalan pasokan listrik bagi seluruh masyarakat.
(Red-KIN)















