KALAM INDONESIA NEWS
Jambi — Dai muda Jambi, Ustadz Khairon, mengajak masyarakat untuk tidak mudah menghakimi seseorang berdasarkan masa lalu, terlebih ketika yang bersangkutan berupaya memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Khairon saat menyoroti berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang dilakukan Ketua DPW Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Jambi, Hj. Ernawati, bersama jajaran ISMI.
Menurut informasi yang disampaikan, kegiatan tersebut mencakup kunjungan dan penyaluran bantuan ke sejumlah masjid, pesantren, rumah tahfiz dan panti asuhan.
ISMI Jambi disebut telah menyalurkan bantuan kepada sekitar 230 anak yatim dan dhuafa yang berada di delapan panti asuhan. Selain itu, terdapat rencana untuk memberikan dukungan kepada sekitar 500 anak yatim yang membutuhkan perhatian dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Program lainnya adalah rencana pemberangkatan 100 guru ngaji, marbot masjid dan penggerak dakwah untuk menunaikan ibadah umrah secara gratis setiap tahun.
Ustadz Khairon menilai, berbagai kegiatan sosial tersebut perlu dilihat secara objektif dari sisi manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Menurutnya, apabila terdapat kritik terhadap suatu kegiatan, kritik tetap dapat disampaikan dengan mengedepankan fakta, verifikasi dan cara yang proporsional.
“Dalam Islam, seseorang yang bertaubat dan berusaha memperbaiki diri memiliki kesempatan untuk membuka lembaran kehidupan yang baru,” ujar Ustadz Khairon dalam tulisannya.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Furqan ayat 70 yang menjelaskan tentang orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan kebajikan, serta janji Allah untuk mengganti keburukan mereka dengan kebaikan.
Ustadz Khairon juga mengingatkan bahwa Islam memberikan banyak teladan mengenai perubahan seseorang setelah mendapatkan hidayah dan memperbaiki kehidupannya.
Ia menyebut Umar bin Khattab RA dan Khalid bin Walid RA sebagai contoh tokoh yang mengalami perubahan besar setelah memeluk Islam dan kemudian memberikan kontribusi besar bagi umat.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa masa lalu seseorang tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menutup kesempatan bagi seseorang yang sedang berusaha menjadi lebih baik.
“Taubat merupakan jalan perubahan. Karena itu, jangan sampai masa lalu seseorang membuat kita menutup mata terhadap kebaikan yang dilakukan pada hari ini,” katanya.
Ia juga mengutip QS. Al-Maidah ayat 8 yang mengingatkan umat Islam untuk tetap berlaku adil dan tidak membiarkan kebencian mendorong seseorang berlaku tidak adil.
Dalam pandangannya, kegiatan membantu anak yatim, dhuafa, guru ngaji, marbot masjid dan penggerak dakwah merupakan bentuk kepedulian sosial yang patut mendapatkan perhatian.
Namun demikian, Ustadz Khairon menegaskan bahwa penghargaan terhadap sebuah kegiatan sosial tidak berarti menutup ruang bagi masyarakat untuk melakukan kritik atau meminta penjelasan apabila terdapat hal-hal yang perlu diketahui publik.
“Kalau ada persoalan, silakan dikritisi berdasarkan fakta. Tetapi jangan merendahkan kebaikan yang manfaatnya nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk membangun budaya saling mengingatkan dengan cara yang baik serta memberikan ruang bagi setiap orang untuk memperbaiki diri.
“Jika kebaikan itu dilakukan dengan tulus, pahalanya menjadi urusan pelakunya dengan Allah SWT, sedangkan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Jika terdapat hal-hal yang perlu dipertanyakan, mari diklarifikasi dan diverifikasi dengan cara yang adil,” pungkasnya.
(Red-KIN)















